OPINI ( M. Ahleyani ) MERDEKA BELAJAR

Pendidikan merupakan sebuah proses pembelajaran pengetahuan,keterampilan dan kebiasaan. Pendidikan juga menjadi roda penggerak sehingga kebudayaan dan kebiasaan dari tiap zaman menjadi berubah mengikuti perubahan dan kemajuan. Pendidikan memegang peranan penting dalam suatu tatanan kehidupan, karena salah satu indikator keberhasilan suatu negara adalah baiknya pendidikan di negara tersebut. Ketika suatu negara ingin mencapai kehidupan yang lebih baik, tentunya pendidikanlah yang merupakan jawabannya. Karena dari pendidikan melahirkan hal-hal yang kreatif, inovatif dalam menapaki setiap perkembangan zaman dan kebudayaan.Pendidikan dibutuhkan oleh semua orang, karena dengan pendidikan semua bisa terarah dan terorganisir.

Undang-Undang Dasar 1945 pada alinea ke-4 menyatakan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi beban untuk kebaikan pemerintahan Indonesia. Namun, ketika melihat sejarah pendididikan Indonesia. Banyak sekali ketertinggalan jika dibandingkan dengan negara lainnya. Bahkan, negara yang memperoleh kemerdekaan lebih lama dari Indonesia, kini pendidikannya bisa melampaui Indonesia. Malaysia contohnya, negara tersebut berhasil memperoleh kemerdekaan di tahun 1957. Jika dibandingkan dengan Indonesia, masih terpaut 12 tahun lebih cepat. Tetapi, apakah cepatnya kemerdekaan menjamin kualitas mutu pendidikan ? Tentunya tidak. Pendidikan di malaysia terbukti lebih maju. Contoh nyatanya saja, banyak Perguruan Tinggi Negeri Malaysia yang masuk pada jajaran Top dunia.Ditambah dengan biaya pendidikan yang tidak terlalu menekan. Semua itu tidak lepas dari andil pemerintah dalam memajukan pendidikan negaranya.

Disini penulis hanya ingin memberikan opini mengenai Pendidikan Indonesia. Bukan untuk merendahkan apalagi menjatuhkan. Karena saya lahir dan juga besar di Indonesia. Di Sebuah kepulauan Nusa Tenggara bagian barat, yang mana memiliki banyak sekali keindahan alam.Pulau Sumbawa dengan keindahan alamnya yang begitu eksotis. Pulau Lombok dengan pantai yang sangat memukau, dengan keindahanya yang bisa ditandingkan dengan negara lain. Maldives dan Maladewa saja mungkin bisa lewat jika terus dikembangkan dan diberi perhatian oleh pemerintah. Terlepas dari semua keindahan yang hanya sebagian kecil dari negara tercinta kita Indonesia. Apakah pendidikannya juga indah ? Saya ragu untuk mengatakan ya. Karena, sepanjang saya hidup di Dompu, sebuah wilayah yang bisa dibilang masih pelosok dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Merasakan sendiri bagaimana pendidikan itu berjalan.
Pendidikan di Jenjang Sekolah Dasar memang masih di gratiskan. Tetapi,memasuki Sekolah Menengah Pertama. Disitulah tantangan Pendidikan dimulai. Setiap siswa diwajibkan membayar iuran semester.Terlepas dari biaya yang harus ditanggung. Pembelajarannya pun masih membebankan siswanya. Pendidikan seharusnya digunakan sebagai wadah untuk siswa, untuk bisa berpikir kreatif dan inovati dalam menciptakan sesuatu yang bisa menghasilkan nilai dan mutu. Tetapi, hanya sebagian kecil yang memapu mengamalkannya dalam kehidupan nyata.

Jerromy Pollin juga pernah berkomentar di kanal youtube miliknya. Bahwasannya,  Pendidikan di Indonesia ini kurang dihargai. Contoh kecilnya saja, Hadiah lomba yang berkaitan dengan pendidikan seperti LCC,Olimpiade dan masih banyak lagi akan kalah dengaan hadiah yang diberikan pada kontes gaming  maupun pertandingan arena. Dan penulis sangat setuju pada komentar tersebut. Karena apabila pemerintah menghargai dan memberikan
perhatian lebih pada pendidikan, Otomatis banyak yang akan berjuang keras untuk bisa memenangkan kontes yang berkaitan dengan dunia pendidikan tersebut. Bisa saja minat belajar anak Indonesia akan terus berkembang pesat jika pemerintah mau memberikan perhatian mendalam pada Iendidikan di Indonesia.

Pendidikan di Indonesia itu tidak buruk, Hanya saja perlu adanya arah dan tujuan yang jelas dari pemerintah untuk Pendidikan Indonesia. 75 Tahun Indonesia merdeka. Seharusnya Indonesia sudah bisa menemukan jati diri pendididikan yang sebenarnya.Memang dalam perjalanan Indonesia perubahan pola penddikan pada masing-masing era, pendidikan dalam perubahan yang tentuya mengarah pada kemajuan. Ini dibuktikan beberapa kebijakan pemerintah mulai dari program wajib  belajar, beasiswa kepada masyarakat kurang mampu seperti BidikMisi dan program-program yang mengupayakan peningkatan kualitas sejauh ini sudah di lakukan. 
Di tahun 2020 ini dibawah kekuasan Presiden Joko Widodo, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), yaitu oleh Bapak Nadiem Makarim. Mengeluarkan kebijakan yang dianggap masyarakat membawa perubahan baru sehingga kebijakan ini hangat di bicarakan di mana-mana. Bahkan, menjadi materi dalam kegiatan PKKMB ( Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru ) yang dilaksanakan oleh Universitas Mataram pada hari pertama Senin (3/8/2020). 

Program “Merdeka Belajar”, yang mana program ini diwujudnyatakan dalam kebijakan penghapusan Ujian Nasional (UN) mulai tahun 2021 diganti dengan sistem penilaian Asesmen Kompetensi Minimum dan survei karakter, ”Asesmen kompetensi minimum adalah kompetensi yang benar-benar minimum dimana kita bisa memetakan sekolah-sekolah dan daerah-daerah berdasarkan kompetensi minimum”, kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dalam peluncuran empat pokok kebijakan pendidikan “Merdeka Belajar’, di Jakarta, Rabu (11/12/2019)
Pak Nadiem Makarim yang menguatkan kebijakan merdeka belajar yang akan di terapkan yaitu, bahwa di masa sekarang ini nilai bukanlah penentu kompetensi seseorang, akreditas bukan juga menjadi tolak ukur kemampuan yang baik, kurang lebih seperti itu penyampaiannya, dan banyak juga dukungan atas kebijakan ini mulai masyarakat luas baik dari pendidik maupun siswa dan mahasiswa. 

Tetapi yang menjadi pertanyaan besar adalah kemana arah pendidikan Indonesia saat ini ? Karena menurut penulis kebijakan yang diambil juga akan menimbulkan kontra dari kalangan masyarakat yang kurang setuju dengan kebijakan ini yang beranggapan bahwa, Nantinya ketika kebijakan itu berlangsung banyak siswa yang terlalu santai dalam belajar karena tidak lagi memikirkan Ujian Nasional (UN) yang sebetulnya itu adalah sebagai tolak ukur kemampuan kompetensi secara nasional yang soal-soalnya di sesuaikan dengan kurikulum yang berlaku pada tiap-tiap zamannya. Memang ujian hanya sebatas angka. Tetapi, apakah dengan melonggarkan pendidikan akan mampu membawa perubahan yang lebih baik untuk kedepannya ? Padahal menurut pandangan penulis sistem itu tidak perlu dirubah yang perlu dirubah itu adalah orang orang yang menjalankan sistem itu sendiri dalam menjalankan sistem tersebut. Karena bagaimanapun sistem yang dibuat, itu tergntung dari pengarahan dan ketegasan dari yang mengatur. 

Bukan tidak mungkin, banyak siswa yang akan menyepelekan pendidikannya dan terlalu bebas karena diberikan kepercayaan. Bukan tidak mungkin juga, sebagian siswa tidak mampu menanggung amant yang telah diamatkan, dan menggunakan konsep merdeka untuk kebebasan yang tidak mengikat. Apalagi Konsep “Merdeka Belajar” ini juga belum menentukan arah dari pendidikan kita kemana apakah konsep merdeka belajar ini menuntut pendidikan itu berkontribusi untuk peningkatan ekonomi sehingga menuntut siswa ini belajar dengan bebas. Bukannya tidak percaya dengan kebiakan yang diambil, tapi segala perubahan yang dilakukan haruslah dengan arah dan tujuan serta dapat diterima oleh semua pihak.

Kita tahu betul, Pak Nadiem adalah orang yang sangat handal dan berpengalaman dalam dunia pendidikan, dan telah meraih banyak sekali penghargaan ditingkat nasional maupun internasional. Namun, kita perlu melihat sejarah itu menjadi bahan pembelajaran kedepannya bahwa dari dulu pendidikan kita tidak terlalu difokuskan untuk apa, melainkan pendidikan itu terbagi ke beberapa bidang sehingga satupun masalah sosial yang ada di Indonesia ini belum ada seutuhnya yang dapat selesai. Itu bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banyak angka lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta yang belum mendapat pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi karena ketidaksesuaian latar belakang pendidikan dengan dunia kerja.

Jika kita mengambil contoh mengenai sebuah aturan dalam rumah tangga. Seorang kepala keluarga berhak dan bebas membuat sistem dan aturan yang berlaku dalam rumah tersebut. Tetapi, apabila kepala keluarga tersebut tidak tegas dan tidak  memberikan pengarahan yang jelas dan memberikan pendekatan kompleks. Apakah anggota keluarga mau megikuti aturan dan sistem yang telah di tetapkan ? Sama seperti konsep Merdeka Belajar yang dibuat, ketika memang dijalankan dengan benar Maka tujuan dari sistem itu sendiri harusnya akan tercapai, perlu adanya penegasan dalam menjalankan revolusi mental bagi tiap-tiap orang yang di pertanggungjawabkan untuk menjalankan peningkatan kualitas pendidikan itu sendiri dan butuh penataan yang baik secara kompleks hingga ke daerah-daerah pelosok sehingga pendidikan itu sama dirasakan oleh semua masyarakat, Bukan hanya dibagian yang mudah untuk di transformasikan. 

Karena kita tahu, Indonesia memiliki letak geografis yang sangat beragam. Dan perlu cukup waktu untuk menyamaratakan semuanya. Dan selanjutnya perlu sebuah penetapan untuk tujuan pendidikan tersebut. Jangan sampai kebijakan ini nantinya akan jauh dari kenyataan konsep yang sudah di buat. Perlu ketelitian juga dalam melihat situsi psikologi pendidikan yang ada di negara kita, karena tiap wilayah yang berbeda di Indonesia ini juga berbeda juga akalnya. Sebelum mengubah sistem pendidikan kita perlu melakukan pendekatan psikologi pendidikan, dan juga sangat perlu penegasan revolusi mental terhadap tenaga pendidik dan yang dididik supaya tujuan pendidikan tersebut dapat tercapai secara maksimal.

Penulis berharap kualitas pedidikan yang ada di Indonesia dapat terus ditingkatkan dan sistem pendidikan bisa terus maju serta bersaing dengan pendidikan negara maju. Yaitu dengan melakukan pengubahan secara besar-besaran secara matang dan memikirkan segala konsekuensi yang akan diihadapi, dalam meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Karena dalam konsep sistem yang dibuat, tujuannya adalah baik dan pada umumnya cita-cita dari sebuah konsep adalah menuju kebaikan dan kebahagiaan untuk semua komponen bangsa. Hanya saja perlu pertimbangan yang lebih medalam dan memperhatikan semuanya pihak, bukan hanya wilayah  yang mudah di gapai tapi semua wilayah yang merupakan bagian dari Indoensia.
75 tahun Indonesa Kemerdekaan. Semoga dengan adanya Program Merdeka Belajar yang telah menjadi keputusan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan dapat menjadi langkah awal untuk Pendidikan Indonesia yang lebih baik. Sebagai warga negara dan mejadi bagian dari Indonesia. Tentunya, kita sama-sama peduli dengan kualitas pendidikan yang ada di Indonesia. 
JAYALAH INDONESIA,JAYALAH PENDIDIKAN INDONESIA 

Komentar